Indonesia/Proses; Esai-esai tentang Identitas dan Ke-Indonesiaa-an oleh Goenawan Muhamad
harga Rp 55.000
tebal : vii + 120 hlm
cetakan tahun 2011
penerbit Grafiti Press
Buku ini berangkat dari sebuah tesis dasar; identitas, yang begitu sering dihebohkan, terutama "identitas nasional", sebenarnya sesuatu yang mengelak. Menyerukan "Kenalilah dirimu!" seperti konon terdapat di tempat orang menemui orakel di Delphi, Yunani Kuno adalah sebuah proses yang tak berujung. Cerita Dewa Ruci, yang mengisahkan perjalanan Bima mencari dirinya sendiri, sebenarnya tak punya akhir.
Sudah tentu pendirian ini bertentangan dengan pandangan mengartikan identitas sebagai "jati diri". Terjemahan ini mengandung asumsi bahwa ada diri yang asli, benar, dari mana semua hal berasal, dan dengan apa semua perilaku dinilai. Tapi bagi saya, sifat "jati" [dari makna kata "sejati" mendapatkan akarnya] adalah percobaan membentuk sesuatu jadi satu, tetap, transparan, dari sebuah kehidupan yang tidak saja beragam, tapi juga bergerak dalam silang silih.
Daftar isi :
Pegantar [iii]
Ucapan Terima Kasih [v]
Dari Sebuah Kota Tua [1]
HUmanisme, dari Jepara dan Tepi Kali Bekasi [17]
Kain Baldwin [31]
Dari STOVIA, Melintasi Taksonomi [55]
Teater dan "Indonesia" [69]
Menyediakan buku bekas, buku antik, buku langka, buku baru, buku sufi, tasawuf, tarekat, yasin, al quran, buku import, buku agama, sejarah, sastra, sosial, politik, budaya [pesan via sms/whatsapp ke 0821-1472-0376]
Showing posts with label Grafiti Pers. Show all posts
Showing posts with label Grafiti Pers. Show all posts
Thursday, August 27, 2015
Friday, July 24, 2015
Jual Buku Kumpulan Sajak Don Quixote oleh Goenawan Mohamad
Kumpulan Sajak Don Quixote oleh Goenawan Mohamad
harga Rp 50.000
tebal 84 hlm
tahun 2011
penerbit Grafiti Pers
harga Rp 50.000
tebal 84 hlm
tahun 2011
penerbit Grafiti Pers
Jual Buku Tokoh + Pokok oleh Goenawan Mohamad
Tokoh + Pokok oleh Goenawan Mohamad
harga Rp 45.000
Penerbit: Tempo, 2011
Tebal: 85 halaman
harga Rp 45.000
Penerbit: Tempo, 2011
Tebal: 85 halaman
Judulnya sudah sangat menjelaskan isi buku ini: tokoh beserta pokoknya. Judulnya sendiri dikatakan berasal dari buku A. Teeuw versi Indonesia yang terbit tahun 1950-an dan kini sudah tak beredar: Pokok dan Tokoh. Ada sebelas tokoh yang dibahas oleh GM di sini yakni Chairil Anwar, Gus Dur, Kartini, Mohammad Hatta, Nurcholish Majid, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, Sukarno, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, dan Wolter Monginsidi.
Buku ini semacam kumpulan esei, beberapa di antaranya sudah dicetak lebih dulu sebagai pembuka dalam seri buku Bapak Bangsa terbitan TEMPO. Kita dibawa menyelami kedalaman tokoh-tokoh tersebut, mencari pokok dibalik sekadar nama, jadi ia tidak serta-merta dilengkapi berbagai detail atau riwayat historis. Ia lebih menyerupai sebuah interpretasi, analisis pemikiran, aksi, dan ucapan tokoh dari perspektif penulis.
Tidak semua tokoh di sini sudah saya ketahui banyak tentangnya. Meski begitu, kenal atau belum, tulisan-tulisan ini tidak menghadirkan mereka sebagai seorang asing, malah sebaliknya. Tak ada satu tokoh pun yang terlihat minor hanya karena kita lebih mengenal yang lainnya. Semua tokoh hadir dalam warna yang berbeda. Satu kesamaan mereka - hal yang menarik yang ditemukan dari membaca buku ini - tiap tokoh yang merepresentasikan simbol tertentu pada dasarnya membawa serta ambivalensi, antithesis. Hal yang juga menjadi dasar manusia lainnya.
Jual Buku Debu, Duka, dsb; Sebuah Pertimbangan Anti-Theodise oleh Goenawan Mohamad
Debu, Duka, dsb; Sebuah Pertimbangan Anti-Theodise oleh Goenawan Mohamad
harga Rp 70.000
tebal 142 hlm
tahun 2011
penerbit Grafiti Pers
harga Rp 70.000
tebal 142 hlm
tahun 2011
penerbit Grafiti Pers
Buku ini intinya membahas tentang “Tuhan” dan persoalan “keadilan Tuhan”. Risau yang tak pernah punya tepi, sampai akhir zaman, sampai kita tak di sini lagi.
Kata “theodise” sendiri berasal dari ‘theos’ dan ‘dike’, “Tuhan” dan “keadilan”.
Tapi di sini kita bisa bertanya, haruskah Tuhan memberi keadilan?
Manusia boleh berharap dan mengharap. Sementara harapan, kata Vaclav Havel, “bukanlah keyakinan bahwa hal-ikhwal akan berjalan baik, melainkan rasa pasti bahwa ada sesuatu yang bukan hanya omong kosong dalam semua ini, apa pun yang akan terjadi akhirnya” (h.34)
Pembicaraan berkembang dari mulai Chairil Anwar, Amir Hamzah, terus merambat ke Al-Ghazali, Zizek, Voltaire, Leibniz, Rousseau, Marx, Goethe, Nietzsche, meluas ke Camus, Hamlet, Freud, Kafka, Heidegger, Foucault, Kant, Derrida, dan seterusnya dan sebagainya. Helicon, Caligula, Faust, Sisyphus, Arjuna, Karna, ikut hadir meramaikan perbincangan. Debu, duka, dan seterusnya dan sebagai-bagainya
Subscribe to:
Posts (Atom)




